Keterampilan Berbahasa, Keterampilan Menyimak, Strategi Pembelajaran Menyimak
HAKIKAT KETERAMPILAN BERBAHASA
A.
Pengertian
dan Manfaat Keterampilan Berbahasa
·
Pengertian
Keterampilan Berbahasa
Keterampilan
berbahasa ada empat aspek, yaitu
a.
keterampilan menyimak
seseorang dikatakan terampil mendengarkan
(menyimak) apabila yang bersangkutan memiliki kemampuan menafsirkan makna dari bunyi-bunyi
bahasa (berupa kata, kalimat, tekanan, dan nada) yang disampaikan pembicara
dalam suatu konteks komunikasi tertentu.
b.
Keterampilan berbicara
Seseorang dikatakan memiliki keterampilan
berbicara apabila yang bersangkutan terampil memilih bunyi-bunyi bahasa (berupa
kata, kalimat, serta tekanan dan nada) secara tepat serta memformulasikannya
secara tepat pula guna menyampaikan pikiran, perasaan, gagasan, fakta,
perbuatan dalam suatu konteks komunikasi tertentu.
c.
Keterapilan membaca
seseorang
dikatakan terampil membaca bila yang bersangkutan dapat menafsirkan makna dan
bentuk-bentuk bahasa tertulis (berupa kata, kalimat, paragraf, organisasi
tulisan) yang dibacanya.
d.
Keterampilan menulis
Seseorang dikatakan memiliki keterampilan
menulis bila yang bersangkutan dapat memilih bentuk-bentuk bahasa tertulis
(berupakata, kalimat, paragraf) serta menggunakan retorika (organisasi tulisan)
yang tepat guna mengutarakan pikiran, perasaan, gagasan, fakta.
keterampilan
berbahasa dapat dikelompokkan ke dalam dua kategori, yakni aspek reseptif dan
aspek produktif. Aspek reseptif bersifat penerimaan atau penyerapan, seperti
yang tampak pada kegiatan menyimak dan membaca. Sementara aspek produktif
bersifat pengeluaran atau pemroduksian bahasa, baik lisan maupun tertulis
sebagaimana yang tampak dalam kegiatan berbicara dan menulis. Menyimak dan
membaca merupakan aspek reseptif, sementara berbicara dan menulis merupakan
aspek produktif.
·
Manfaat
Keterampilan Berbahasa
Keterampilan
berbahasa bermanfaat dalam melakukan interaksi komunikasi dalam masyarakat.
Banyak profesi dalam kehidupan bermasyarakat yang keberhasilannya, antara lain
bergantung pada tingkat keterampilan berbahasa yang dimilikinya, misalnya
profesi sebagai manajer, jaksa, pengacara, guru, penyiar, dai, wartawan, dan
lain-lain.
B.
Aspek- aspek
Keterampilan Berbahasa
Sehubungan dengan
penggunaan bahasa, terdapat empat aspek keterampilan berbahasa yang biasa
digunakan untuk berkomunikasi, yaitu mendengarkan (menyimak), berbicara,
membaca, dan menulis.
·
Mendengarkan/
Menyimak
Mendengarkan adalah keterampilan
memahami bahasa lisan yang bersifat reseptif. Yang dimaksud dengan keterampilan
mendengarkan di sini bukan berarti hanya sekadar mendengarkan bunyi-bunyi
bahasa melalui alat pendengarannya, melainkan sekaligus memahami maksudnya.
Berikut ini adalah
keterampilan-keterampilan mikro yang terlibat ketika kita berupaya untuk
memahami apa yang kita dengar, yaitu pendengar harus:
1.
menyimpan/mengingat
unsur bahasa yang didengar menggunakan daya ingat jangka pendek (short-term
memory);
2.
berupaya
membedakan bunyi-bunyi yang membedakan arti dalam bahasa target;
3.
menyadari adanya
bentuk-bentuk tekanan dan nada, warna suara dan intonasi; menyadari adanya
reduksi bentuk-bentuk kata;
4.
membedakan dan memahami arti kata-kata yang
didengar;
5.
mengenal
bentuk-bentuk kata yang khusus (typical word-order patterns);
6.
mendeteksi
kata-kata kunci yang mengidentifikasikan topik dan gagasan;
7.
menebak makna dari
konteks;
8.
mengenal
kelas-kelas kata (grammatical word classes);
9.
menyadari
bentuk-bentuk dasar sintaksis;
10.
mengenal
perangkat-perangkat kohesif (recognize cohesive devices);
11.
mendeteksi
unsur-unsur kalimat seperti subjek, predikat, objek, preposisi, dan unsur-unsur
lainnya (http://www.sil.org/lingualinks).
· Berbicara
Dalam keterampilan berbicara dikenal
tiga jenis situasi berbicara, yaitu interaktif, semiinteraktif, dan
noninteraktif.
1.
Situasi-situasi
berbicara interaktif, misalnya terjadi pada percakapan secara tatap muka dan
berbicara melalui telepon. Kegiatan berbicara dalam situasi interaktif ini memungkinkan
adanya pergantian peran/aktivitas antara berbicara dan mendengarkan.
2.
situasi berbicara
yang tergolong semiinteraktif, misalnya dalam berpidato di hadapan umum,
kampanye, khutbah/ceramah dan lain-lain, baik yang dilakukan melalui tatap muka
secara langsung namun berlangsung secara satu arah.
3.
Beberapa situasi
berbicara dapat dikatakan betul-betul bersifat noninteraktif jika pembicaraan
dilakukan secara satu arah dan tidak melalui tatap muka langsung, misalnya
berpidato melalui radio atau televisi. Pidato kenegaraan yang disampaikan
melalui siaran televisi atau radio termasuk kedalam jenis ini.
Berikut ini beberapa
keterampilan mikro yang harus dimiliki oleh si pembicara dalam melakukan
aktivitas berbicara, antara lain:
1. mengucapkan
bunyi-bunyi yang berbeda secara jelas sehingga pendengar dapat membedakannya
2. menggunakan
tekanan, nada, serta intonasi secara jelas dan tepat sehingga pendengar dapat
memahami apa yang diucapkan pembicara;
3. menggunakan bentuk-bentuk kata, urutan kata,
serta pilihan kata yang tepat;
4. menggunakan
register atau ragam bahasa yang sesuai dengan situasi komunikasi dan pelaku
komunikasi (hubungan antara pembicara danpendengar);
5. menyampaikan
kalimat-kalimat utama (the main sentence constituents) dengan jelas bagi
pendengar;
6. berupaya
mengemukakan ide-ide atau informasi tambahan guna menjelaskan ide-ide utama;
7. berupaya agar wacana berpautan secara serasi
sehingga pendengar mudah mengikuti pembicaraan (http://www.sil.org/lingualinks).
·
Membaca
Keterampilan
membaca terbagi ke dalam dua klasifikasi, yakni (a) membaca permulaan, dan (b)
membaca lanjutan. Kemampuan membaca permulaan ditandai oleh kemampuan melek
huruf, yakni kemampuan mengenali lambang-lambang tulis dan dapat
membunyikannya dengan benar. Sementara pada membaca lanjut, kemampuan membaca
ditandai oleh kemampuan melek wacana. Artinya, pembaca bukan hanya
sekadar mengenali lambang tulis, bisa membunyikannya dengan lancar, melainkan
juga dapat memetik isi/makna bacaan yang dibacanya. Penekanan membaca lanjut
terletak pada pemahaman isi bacaan, bahkan pada tingkat tinggi harus disertai
dengan kecepatan membaca yang memadai.
Keterampilan-keterampilan
mikro yang terkait dengan proses membaca yang harus dimiliki pembicara, adalah
1. mengenal
sistem tulisan yang digunakan;
2. mengenal
kosakata;
3. menentukan
kata-kata kunci yang mengidentifikasikan topik dan gagasan utama;
4. menentukan
makna kata-kata, termasuk kosakata, dari konteks tertulis;
5. mengenal
kelas kata gramatikal: kata benda, kata sifat, dan sebagainya;
6. menentukan
konstituen-konstituen dalam kalimat, seperti subjek,predikat, objek, dan
preposisi;
7. mengenal
bentuk-bentuk dasar sintaksis;
8. merekonstruksi
dan menyimpulkan situasi, tujuan-tujuan, dan partisipan
9. menggunakan
perangkat kohesif leksikal dan gramatikal guna menarik kesimpulan-kesimpulan;
10. menggunakan pengetahuan dan
perangkat-perangkat kohesif leksikal dan gramatikal untuk memahami topik utama
atau informasi utama;
11. membedakan ide utama dari detail-detail yang
disajikan;
12. menggunakan
strategi membaca yang berbeda terhadap tujuan-tujuan membaca yang berbeda,
seperti skimming untuk mencari ide-ide utama atau melakukan studi secara
mendalam (http://www.sil.org/lingualinks).
·
Menulis
Berikut
ini keterampilan-keterampilan mikro yang diperlukan dalam menulis, di mana
penulis perlu untuk:
1. menggunakan
ortografi dengan benar, termasuk di sini penggunaan ejaan;
2. memilih kata yang tepat;
3. menggunakan
bentuk kata dengan benar;
4. mengurutkan kata-kata dengan benar;
5. menggunakan struktur kalimat yang tepat dan
jelas bagi pembaca;
6. memilih
genre tulisan yang tepat, sesuai dengan pembaca yang dituju;
7. mengupayakan
ide-ide atau informasi utama didukung secara jelas oleh ide-ide atau informasi
tambahan;
8. mengupayakan, terciptanya paragraf, dan
keseluruhan tulisan koheren sehingga pembaca mudah mengikuti jalan pikiran atau
informasi yang disajikan;
9. membuat dugaan seberapa banyak pengetahuan
yang dimiliki oleh pembaca sasaran mengenai subjek yang ditulis dan membuat
asumsi mengenai hal-hal yang belum mereka ketahui dan penting untuk ditulis (http://www.sil.org/lingualinks).
C.
Keterkaitan Antar Aspek Keterampilan Berbahasa
·
Hubungan Berbicara
Dengan Menyimak
Menurut
Brooks dalam Tarigan (1994:3), berbicara dan mendengarkan merupakan kegiatan
komunikasi dua arah yang bersifat langsung. Apabila kita amati
peristiwa-peristiwa komunikasi yang terjadi dalam masyarakat.
Dawson
dalam Tarigan (1994:3) menjelaskan hubungan antara berbicara dan mendengarkan,
seperti berikut ini :
1.
Ujaran biasanya
dipelajari melalui proses mendengarkan dan proses meniru.
2.
Ujaran seseorang
mencerminkan pemakaian bahasa di lingkungan keluarga dan masyarakat tempatnya
hidup, misalnya dalam penggunaan intonasi, kosakata, dan pola-pola kalimat.
3.
Upaya yang
dilakukan untuk meningkatkan kemampuan mendengarkan berarti pula membantu
meningkatkan kualitas berbicara.
4.
Bunyi suara yang
didengar merupakan faktor penting yang berpengaruh terhadap kemampuan berbicara
seseorang (terutama anak-anak).
·
Hubungan Menyimak
Dengan Membaca
Mendengarkan
berkaitan dengan penggunaan bahasa ragam lisan, sedangkan membaca merupakan
aktivitas berbahasa ragam tulis. Ini sejalan dengan penjelasan yang dikemukakan
oleh Tarigan (1994:4).
·
Hubungan Membaca
Dengan Menulis
Telah dikemukakan
pada bagian terdahulu bahwa baik membaca maupun menulis merupakan aktivitas
berbahasa ragam tulis. Menulis merupakan kegiatan berbahasa yang bersifat
produktif, sedangkan membaca merupakan kegiatan berbahasa yang bersifat
reseptif. Seseorang menulis guna menyampaikan gagasan, perasaan atau informasi
dalam bentuk tulisan. Sebaliknya, seseorang membaca guna memahami gagasan,
perasaan atau informasi yang disajikan dalam bentuk tulisan tersebut.
·
Hubungan Dengan
Berbicara
Berbicara merupakan kegiatan berbahasa
ragam lisan, sedangkan menulis
merupakan kegiatan berbahasa ragam
tulis. Kemudian, kegiatan menulis pada umumnya merupakan kegiatan
berbahasa tak langsung, sedangkan
berbicara pada umumnya bersifat
langsung. Ini berarti ada juga kegiatan menulis yang bersifat langsung,
misalnya komunikasi tulis dengan menggunakan telepon seluler (SMS) dan dengan
menggunakan internet (chatting). Sebaliknya, ada pula kegiatan berbicara
secara tidak langsung, misalnya melalui pengiriman pesan suara melalui telepon
seluler.
KETERAMPILAN MENYIMAK
A.
KONSEP DAN PERANAN MENYIMAK
· Konsep Menyimak
Menurut Tarigan (1987:28)
Menyimak adalahsebagai suatu
proses, yaitu mendengarkan lambang-lambang lisan dengan penuh perhatian,
pemahaman apresiasi, serta interpretasi untuk memperoleh informasi, menangkap
isi atau pesan serta memahami makna komunikasi yang telah disampaikan oleh
pembicara melalui ujaran atau bahasa lisan.
·
Peranan Menyimak
1. Dasar belajar bahasa.
2. Penunjang keterampilan berbicara, membaca, dan
menulis.
3. Pelancar komunikasi lisan.
4. Penambah informasi atau pengetahuan.
B.KAITAN MENYIMAK
DENGAN KETERAMPILAN BERBAHASA LAIN
·
Menyimak Dengan Berbicara
Hal yang membuktikan bahwa kedua keterampilan ini memiliki
hubungan yang erat adalah:
1.
suatu ujaran diperoleh seseorang/anak melalui menyimak
ang dilanjutkan dengan meniru cara pengucapannya.
2.
kedua
keterampilan ini membutuhkan kerja sama yang baik.
·
Menyimak dan Membaca
Menyimak dan membaca juga memiliki persamaan dalam hal
sifat, yaitu sama-sama bersifat aktif reseptif atau menerima secara aktif. Kesamaan
sifat ini pun berlanjut pada kesamaan tujuan dari kegiatan keterampilan
berbahasa ini, yaitu sama-sama bertujuan memperoleh informasi atau pengetahuan.
·
Menyimak dan Menulis
keterampilan menyimak yang dimiliki seseorang akan
banyak memberi kontribusi terhadap keterampilan menulisnya
C. MENYIMAK SEBAGAI SUATU PROSES
Morris
(1964: 701 -702) membagi proses menyimak menjadi 5 tahap sebagai berikut :
1.
Tahap Mendengar Pada tahap ini
penyimak baru mendengar segala sesuatu yang dikemukakan oleh pembicara dalam
ujaran-ujaran atau pembicaraannya.
2.
Tahap Memahami Setelah
ujaran-ujaran masuk ke telinga, penyimak berusaha untuk memahami isi ujaran
atau pembicaraan dengan cara mengolah bunyi-bunyi bahasa menjadi satuan bahasa
yang bermakna.
3.
Tahap Menginterpretasi Setelah penyimak
memahami makna ujaran pembicara, penyimak berusaha untuk menafsirkan isi atau
maksud pembicaraan. Apakah ujaran bermakna tersurat atau ada makna tersirat di
balik ujaran-ujarannya. Jelasnya penyimak mengerti makna dan maksud yang
terkandung dalam pembicaraan tersebut
4.
Tahap Mengevaluasi Tahap
menginterpretasi atau menafsirkan dilanjutkan dengan tahap menilai atau
mengevaluasi. Penyimak yang baik tidak asal menerima apa-apa yang disimaknya,
tetapi dia akan menilai di mana keunggulan dan kelemahan, kebaikan, dan
kekurangan sang pembicara sehingga pesan, gagasan, atau pendapat pembicara
dianggapnya pantas untuk diterima atau harus ditolaknya.
5.
Tahap Menanggapi Tahap menanggapi
merupakan tahap yang berada pada tingkat yang lebih tinggi. Di sini, penyimak
mulai menggunakan kesempatan untuk berganti peran dengan pembicara. Pada tahap
ini, penyimak mengungkapkan hasil akhir dari kegiatan menyimaknya. Penyimak
akan mengatakan setuju atau tidak setuju atas isi pembicaraan yang diujarkan
pembicara.
D. JENIS-JENIS MENYIMAK
·
Menyimak Berdasarkan Tujuan
Secara garis besar,
menyimak berdasarkan tujuan dapat dibedakan menjadi berikut :
1.
Menyimak Untuk Belajar
Dalam hal ini menyimak untuk belajar dapat diartikan
sebagai menyimak untuk memperoleh pengetahuan secara formal maupun nonformal.
2.
Menyimak Untuk
Hiburan
Menyimak untuk hiburan mendapat penekanan pada objek
atau bahan simakan. Jenis menyimak ini berhubungan dengan dunia pertunjukan.
Tujuan dari kegiatan menyimak jenis ini adalah untuk memperoleh hiburan dan
menghilangkan rasa jenuh atau kebosanan dari rutinitas sehari-hari.
3.
Menyimak Untuk
Menilai
Menyimak
yang bertujuan untuk menilai banyak dilakukan oleh para juri. Dalam hal ini,
penyimak melakukan tugasnya sebagai juri suatu perlombaan yang biasanya
berhubungan dengan bahasa, seperti lomba pidato, membaca puisi, membaca
Alquran, dan dapat juga lomba menyanyi.
4.
Menyimak Untuk
Apresiasi
Menyimak jenis ini mirip dengan menyimak untuk
hiburan, namun pada menyimak jenis ini ada nilai tambahnya, yaitu penyimak
dapat menyertakan perasaannya pada hal-hal yang disimak.
5.
Menyimak Untuk
Memecahkan Masalah
Menyimak dengan tujuan memecahkan masalah dapat
berujung pada menyimak untuk memperoleh informasi yang berdampak pada pemecahan
suatu masalah. Pada menyimak jenis ini, seseorang sengaja memilih bahan simakan
dan melakukan kegiatan menyimak dalam rangka memecahkan masalah yang sedang
dihadapi.
·
Menyimak
Berdasarkan Intensitas
Dipandang dari segi intensitas, menyimak dikelompokkan
menjadi 2 sebagai berikut :
1.
Menyimak Ekstensif
Menyimak jenis ini (extensive listening)
merupakan kegiatan menyimak yang berhubungan dengan hal-hal yang bersifat umum
dan tidak diperlukan bimbingan langsung dari seorang guru.
Untuk lebih jelasnya pahamilah penjelasan mengenai
jenis-jenis menyimak ekstensif berikut ini :
a) Menyimak sekunder
Menyimak sekunder adalah jenis kegiatan menyimak yang
dilakukan pada saat atau bersamaan dengan kegiatan lain.
b) Menyimak Pasif
Menyimak pasif mirip dengan menyimak sekunder, yaitu
menyimak sambil melakukan pekerjaan lain. Contoh kegiatan menyimak pasif ini
sering kita temukan pada kebiasaan anak-anak dewasa ini, yaitu belajar sambil
mendengarkan siaran radio.
c) Menyimak Estetis
Dalam menyimak estetis penyimak secara serius dan
bersungguh-sungguh memperhatikan suatu acara atau pertunjukan drama, cerita,
dongeng, puisi atau hiburan-hiburan lain yang sejenis baik secara langsung
maupun melalui siaran televisi atau radio.
2.
Menyimak Ekstensif
Dalam menyimak intensif, penyimak memerlukan arahan
dan bimbingan yang ketat karena bahan-bahan yang harus disimak perlu dipahami
secara terperinci, teliti, dan mendalam.
jenis menyimak intensif ini adalah menyimak kritis,
menyimak konsentratif, dan menyimak kreatif. Ketiga jenis menyimak tersebut
akan dijelaskan berikut ini :
a) Menyimak kritis
Menyimak kritis adalah kegiatan menyimak yang
dilakukan secara kritis, di dalamnya terlihat adanya kehadiran prasangka yang
berperan sebagai pijakan dalam mengamati ketidaktelitian yang dilakukan
pembicara dalam menyampaikan data dan fakta yang memperkuat ide atau gagasannya.
b) Menyimak
Konsentratif
Menyimak konsentratif sering juga disebut a study
type listening atau menyimak sebagai kegiatan menelaah.
c) Menyimak Kreatif
Menyimak
kreatif mempunyai hubungan erat dengan imajinasi seseorang. Umumnya imajinasi
berhubungan dengan keindahan, bunyi-bunyian, gerak-gerak tentang sesuatu, dan
juga penglihatan terhadap sesuatu.
A. Pendahuluan
Keterampilan
menyimak adalah suatu bentuk keterampilan berbahasa yang bersifat reseptif.
Keterampilan menyimak baru diakui sebagai komponen utama dalam pembelajaran
bahasa pada tahun 1970 yang ditandai munculnya teori Total Psysical
Response (TPS) dari James Asher, The Natural Approach, dan Silent Period.
Ketiga teori ini menyatakan kegiatan keterampilan menyimak ialah proses
psikomotorik untuk menerima gelombang suara melalui telinga dan mengirimkannya
impuls-impuls tersebut ke otak.
Strategi
merupakan suatu seni merancang kegiatan proses pembelajaran. Strategi
pembelajaran bahasa adalah tindakan pengajar melaksanakan rencana mengajar
bahasa. Sedangkan strategi pembelajaran keterampilan menyimak adalah seni
merancang tindakan pelaksanaan proses pembelajaran mengenai kemampuan
menginformasikan kembali pemahamannya melalui keterampilan berbicara maupun
menulis.
B. Pembahasan
Pembahasan
strategi pembelajaran menyimak dalam hal ini meliputi pengertian menyimak,
tujuan menyimak, proses kegiatan menyimak, dan strategi menyimak, dan penilaian
menyimak dalam kelas.
1.
Pengertian Menyimak
Keterampilan
menyimak merupakan salah satu keterampilan berbahasa yang utama. Menurut
beberapa pendapat mengatakan bahwa menyimak sebagai suatu proses bahasa yang
dimaknai ke dalam pikiran. Dengan kata lain mendengarkan atau menyimak adalah
suatu jenis mendengarkan dan menyimak yang meminta upaya kesadaran mental
(Iskandarwassid, hal. 235).
2. Tujuan Pembelajaran Menyimak
Tujuan
pembelajaran menyimak dibagi menjadi dua bagian, pertamamenyimak umum dan
menyimak kritis (Iskandarwassid, hal.237.-239)
a.
Menyimak umum:
1) Mengingat
rincian-rincian penting secara tepat mengenai ilmu pengetahuan khusus
2) Mengingat
urutan-urutan sederhana atau kata-kata dan gagasan.
3) Mengikuti
pengarahan-pengarahan lisan.
4) Memparafrase
suatu pesan lisan sebagai suatu pemahaman melalui penerjemahan.
5) Mengikuti
suatu urutan (a) pengembangan plot, (b) pengembangan watak/pelaku cerita, dan
(c) argumentasi pembicara.
6) Memahami
makna denotatif kata-kata.
7) Memahami
makna konotatif kata-kata.
8) Memahamimakna
kata-kata melalui konteks percakapan (pemahaman melalui perjemahan dan
penafsiran).
9) Mendengarkan
untuk mencatat rincian-rincian penting
10) Mendegarkan
untuk mencatat gagasan utama.
11) Menjawab
dan merumuskan pertanyaan-pertanyaan
12) Mengidentifikasi
gagasan utama dan meringkas dalam pengertian mengombinasikan dan mensintesiskan
tentang siapa,apa, kapan, di mana dan mengapa.
13) Memahami
hubungan antara gagasan dan organisasi yang cukup baik untuk menentukan apa
yang bia terjadi berikutnya.
14) Menghubungkan
materi yang diucapkan secara lisan dengan pengalaman sebelumnya.
15) Mendengar
untuk alasan kesenangan dan respons emosional.
b.
Menyimak secara kritis:
1) Membedakan
fakta dari khayalan menurut kriteria tertentu.
2) Menentukan
validitas dan ketepatan gagasan utama, aegumen-argumen,dan hipotesis.
3) Membedakan
pertanyaan-pertanyaan yang didukung dengan bukti-bukti yang tepat dari opini
dan penilaian serta mengevaluasinya.
4) Memeriksa,
membandingkan, dan mengkontraskan gagasan dan menyimpulkan pembicaraan,
misalnya mengenaiketetapan dan kessuaian suatu deskripsi.
5) Mengevaluasi kesalahan-kesalahan, seperti
analogi yang salah dan gagal dalam menyajikan contoh.
6) Mengenal
dan menentukan pengaruh-pengaruh berbagai alat yang dipakai oleh pembicara
untuk mempengaruhi pendengar, misalnya musik, intonasi suara.
7) Melacak
dan mengevaluasi bias dan prasangka buruk dari pembicara atau dari suatu sudut
pandang tertentu.
8) Menevaluasi
kualifikasi pembicara
9) Merencanakan
evaluasi dan mencoba menerapkan suatu situasi yang baru.
3.
Proses kegiatan Menyimak
Proses kegiatan menyimak
menurut Brown (1995) terdapat delapan proses dalam kegiatan menyimak, yakni:
1)
Pendengar memproses raw speech an
menyimpan image darinya dalam short term memory.
2)
Pendengar menentukan tife dalam setiap
peristiwa pembicaraan yang sedang diproses.
3)
Pendengar mencari maksud dan tujuan
pembicara dengan mempertimbangkan bentuk dan jenis pembicaraan, konteks dan
isi.
4)
Pendengar me-recall latar belakang
informasi (melalui skema yang ia miliki) sesuai dengan konteks subjek masalah
yang ada.
5)
Pendengar mencari arti literal dari pesan
yang ia dengar.
6)
Pendengar menentukan arti yang dimaksud.
7)
pendengar mempertimbangkan apakah
informasi yang ia terima harus disimpan di dalam memorinya atau ditunda.
8)
Pendengar menghapus bentuk pesan-pesan
yang telah ia terima.
4. Strategi Pembelajaran Menyimak
a)
Menyimak dalam
Pengajaran Bahasa : David Nunan
Proses Mendengar Dasar
Mendengar
adalah mengasumsikan kepentingan yang jauh lebih baik dalam kelas-kelas bahasa
asing. Inilah beberapa alasan pertumbuhan ini dalam popularitas. Dengan
menekankan peran comprehensible input, penelitian penambahan bahasa
kedua telah memberikan dorongan yang besar terhadap menyimak.
Menyimak Dalam Praktik
Suatu
dimensi yang berpusat pada pelajar di kelas menyimak dalam satu atau dua cara.
Pertama, tugas dapat direncanakan di mana aksi kelas berpusat pada pelajar,
bukan pada guru. Dalam tugas mengeksploitasi ide ini, para murid dengan aktif
terlibat dalam menstruktur dan merestruktur pemahaman mereka dalam bahasa dan
membangun skill mereka dalam mengunakan bahasa.
b)
Hasil
Pembelajaran Listening: John Field
Sejak
akhir tahun 1960. Pemeraktik menyadari pentingnya menyimak dan mulai mengatur
waktu untuk mempraktikkan kemampuan. Format standar pelajaran menyimak yang
berkembang pada saat ini:
·
pre-listening:
mengajarkan terlebih dahulu kosa-kata yang terdapat dalam bahasan
·
listening:
ekstensif listening (diikuti dengan pertanyaan umum penetapan konten) intensif
listening (diikuti oleh pertanyaan komprehensi yang mendetail)
·
post-listening:
menganalisis bahasa teks (mengapa pembicara menggunakan tatabahasa tersebut?!)
dengar dan ulangi: guru memberhentikan tape, murid mengulangi kata”.
c)
Penggunaan alat
pencipta waktu
Alat
tersebut digunakan untuk menunbuhkan waktu bagi pembicara sehingga dia dapat
menyusun apa yang akan dikatakan selanjutnya pada pidato spontan. Satu contoh
tipikal dari alat” ini adalah penggunaan pengisi sela. Hal” ini milik satu dari
lima tipe penanda ucapan yang diidentifikasi oleh anak, penting bahkan di
pidato yang lancer. Oleh anak berpendapat bahwa kemunculan pertanda pidato
seperti pengisi sela pada akhir unit pidato yang lengkap atau tempat relevan yang
transisional (co. pada titik grammar) sangat sering. Di samping fungsi leksikal
atau sintatis yang pengisi sela seperti “um”, “urh”, or “eh” sajikan, mereka
punya tujuan- untuk membantu pembicara merencanakan dan untuk membantu pendengar
memproses ucapan.
5.
Penilaian Menyimak dalam Kelas
Setiap
pelajaran di kelas menyangkut masalah penilaian, apaka berbentuk informal,
spontan, dan berdasarkan intuisi guru dan umpan balik, atau dalam persiapan
formal, tes berskor. Untuk menarik perhatian terhadap peran penting yang harus
ditanggung oleh para guru, saya mengusulkan, pada bagian ini dan tiga
seterusnya dari empat bagian skill-beberapa prinsip dan pedoman untuk menilai
skill tersebut dalam kelas. Untuk cara yang komprehensif dalam menilai keempat
skill tersebut.
Komentar
Posting Komentar