GANGGUAN BERBAHASA YAITU LATAH PADA MANUSIA
Nama : Yulia Afiska Putri
NIM : A1D117028
E-mail : yuliaafiskaputri@gmail.com
PENGANTAR
Latah
merupakan salah satu gannguan kebahasaan yang terjadi pada beberapa orang di
muka bumi. Perilaku latah muncul ketika seseorang dalam kondisi terkejut oleh
kejadian dilingkungan sekitarnya.
Peneliti Barat
membangun persepsi bahwa individu latah adalah orang-orang sakit jiwa atau
berperilaku abnormal. Hal ini kemudian dianulir peneliti Indonesia dan sebagian
peneliti luar negeri yang menegaskan bahwa perilaku tersebut muncul pada saat
kesadaran seseorang menurun dan mereka akan hidup normal ketika kesadaran
mereka penuh. Perilaku latah ini tidak hanya menarik bagi peneliti
antropologi, bahkan dari perspektif psikiatris akhirnya pun bermunculan istilah
yang ditujukan untuk penyandang latah, seperti psychosis, hysterical
psychosys arctic hysteria, reactive psychosis, startle reactions, fright
neurosis, dan hypnoid state. Munculnya istilah tersebut kemudian
sedikit menganulir bahwa latah bukanlah perilaku kegilaan atau pelakunya adalah
orang sakit jiwa, tetapi semata-mata sebagai perbuatan (perilaku) yang muncul
pada individu karena individu tersebut kehilangan kontrol diri.
PEMBAHASAN
Fenomena yang terjadi
pada seseorang yang latah sangat unik. Pada keadaan sadar seorang yang latah
berperilaku dan berbahasa dengan normal baik berupa gerak tubuh, pilihan kata,
dan ekspresi muka. Namun kondisi tersebut akan berubah ketika penyandang latah
dikejutkan, ditepuk, mendengar objek jatu dan lain-lainnya. Seketika gerak
tubuh, pilihan kata, dan ekspresi muka tidak terkontrol. Latah
sering disamakan dengan ekolalia, yaitu perbuatan membeo atau menirukan
apa yang dilakukan orang lain. Tetapi, sebenarnya latah merupakan suatu sindrom
yang bersifat jorok dan gangguan lokomotorik yang dapat dipancing.
Peristiwa demikian terjadi dengan sangat
cepat dan di luar kesadaran para penyandang latah, dan bila kesadarannya telah
kembali biasanya mereka akan meminta maaf atas ketidaksopanannya. Fenomena
latah yang spontan keluar karena reaksi keterkejutan, dan saat ini justru
semakin meluas, sangat menarik untuk diteliti karena penyandangnya tidak
terjadi pada perempuan saja, tidak lagi yang berpendidikan rendah dan tidak
lagi pada mereka yang berkelas ekonomi rendah tetapi mulai
merambah pada kaum laki-laki, berpendidikan menengah ke atas, dan berkelas
ekonomi menengah ke atas.
Menurut
Soenjono Dardjowidjojo ( 2003: 154 ) latah mempunyai ciri-ciri sebagai berikut:
a.
latah
hanya terdapat di Asia Tenggara
b.
pelakunya
hampir semua wanita
c.
kata-kata
yang dikeluarkan umumnya berkaitan dengan seks atau alat kelamin pria atau
jantan
d.
kalau
terkejutnya berupa kata, maka si latah juga bisa mengulang kata itu saja.
Contoh: bila si A dikejutkan dengan kata kuda , maka konon
dia juga akan berkata kuda.
Secara umum ada empat jenis latah yaitu:
1.
Ekolalia, latah dengan
mengulangi perkataan orang lain.
Contoh : jika orang yang berada di dekat penderita mengagetkannya
dengan menyebutkan kata gila, maka penderita latah secara spontan akan
mengulangi kata-kata tersebut berulang-ulang.
2.
Ekopraksia, latah dalam bentuk
meniru gerakan orang lain. Artinya, ketika melihat orang lain bertingkah unik,
secara spontan orang yang mengidap latah ekopraksia akan meniru persis gerakan
orang tersebut secara berulang-ulang. Contoh : jika orang yang berada di dekat
penderita latah mengagetkannya sambil menari,maka secara spontan penderita
latah akan ikut menari.
3.
Koprolalia, latah dengan
mengucapkan kata-kata tabu atau kotor. Artinya, ketika ada seseorang yang
mengagetkannya secara spontanitas penderita latah akan mengeluarkan kata-kata
tabu atau kotor secara berulang-ulang.
4.
Automatic obedience: melaksanakan perintah
secara spontan pada saat terkejut, misalnya; ketika penderita dikejutkan dengan
seruan perintah seperti “sujud”
atau ”peluk”, ia akan segera melakukan perintah itu.
Tingkat risiko tertular penyakit latah antar orang yang satu
dengan yang lain tentu tidak sama. Faktor pemicunya pun tidak sama, antara
lain:
1.
Faktor Pemberontakan
Dalam kondisi latah, seseorang bisa mengucapkan hal-hal yang
dilarang, tanpa merasa salah. Gejala ini semacam gangguan tingkah laku. Lebih
ke arah obsesif karena ada dorongan tidak terkendali untuk mengatakan atau
melakukan sesuatu.
2.
Faktor Kecemasan
Gejala latah muncul karena yang
bersangkutan memiliki kecemasan terhadap sesuatu tanpa ia sadari. Rata?rata,
dalam kehidupan pengidap latah, selalu terdapat tokoh otoriter, bisa ayah atau
ibu atau di luar lingkungan keluarga. Latah dianggap jalan pemberontakannya
terhadap dominasi orangtua yang sangat menekan.
3. Faktor
pengondisian.
Inilah yang sering disebut latah karena
ketularan. Seseorang mengidap latah karena dikondisikan lingkungan, misalnya di
saat latah, seseorang merasa diperhatikan lingkungannya. Dengan begitu, latah
juga merupakan upaya mencari perhatian.
Gejala latah ini
merupakan gejalakebahasaan dari orang yang mempunyai perilaku latahyang berupa
pengekspresian diri. Melalui bahasa latah,orang latah bebas mengekspresikan
dirinya ataumengungkapkan perasaannya tanpa ada rasa malusedikitpun. Gejala
latah tersebut muncul ketika orangtersebut mendapatkan perhatian lebih atau
mendapatrangsangan dari teman . Tanpa sadar penderita latahdengan mudahnya
mengeluarkan kata atau kalimatketika ada seseorang yang secara sengaja maupun
tidaksengaja memberi sentuhan atau rangsangan kepadaorang latah. Sentuhan pada
orang latah biasanya berupasentuhan pada bagian badan baik secara pelan
maupunkeras. Ketika orang latah mendapat sentuhan, biasanyaorang tersebut akan
mengeluarkan kata-kata jorok ataukotor dan bisa juga kata yang didengar oleh
orang latahakan diulang baik kata yang diucapkannnya sendirimaupun kata yang
diucapkan oleh orang lain.
DAFTAR PUSTAKA
Indah, R.
N. 2017. GANGGUAN BERBAHASA. Malang.UIN-MALIKI Press (Anggota IKAPI)
Harianto, B. Dkk. 2013. PERILAKU BERBAHASA LATAH
WARGA DESA JATIGONO KECAMATANKUNIR KABUPATEN LUMAJANG SEBUAH KAJIAN
PSIKOLINGUISTIK.
Pamungkas, S. Dkk. 2017. Menafsir
Perilaku Latah Coprolalia pada Perempuan Latah dalam Lingkup Budaya
Mataraman: Sebuah Kajian Sosiopsikolinguistik.
Komentar
Posting Komentar